Friday, October 26, 2012

6) Manusia dan Penderitaan

6.1 Pengertian Penderitaan
   Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sanskerta "dhra" yang artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau batin, atau lahir batin.
     Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang berat ada juga yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat tidaknya intensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan atau kebahagiaan
       Penderitaan akan dialami oleh semua orang, hal itu sudah merupakan "resiko" hidup. Tuhan memberikan kesenangan atau kebahagiaan kepada umatNya, tetapi juga memberikan penderitaan atau kesedihan yang kadang-kadang bermakna agar manusia sadar untuk tidak berpaling dariNya. Untuk itu pada umumnya manusia telah diberikan tanda atau wangsit sebelumnya, hanyasaja mampukan manusia menangkap atau tanggap terhadap peringatan yang diberikanNya. Tanda atau wangsit demikian dapat berupa mimpi sebagai pemunculan rasa tidak sadar dari manusia waktu tidur, atau mengetahui melalui membaca koran tentang terjadinya penderitaan.

6.2 Siksaan
      Siksaan atau penyiksaan (Bahasa Inggris : Torture) digunakan untuk merujuk pada penciptaan rasa sakit untuk menghancurkan kekerasan hati korban. Segala tindakan yang menyebabkan penderitaan, baik secara fisik maupun psikologis, yang dengan sengaja dilakukan terhadap seseorang dengan tujuan intimidasi, balas dendam, hukuman, sadisme, pemaksaan informasi, atau mendapatkan pengakuan palsu untuk propaganda atau tujuan politik dapat disebut sebagai penyiksaan.
      Siksaan dapat digunakan sebagai suatu cara introgasi untuk mendapat pengakuan. Siksaan juga dapat digunakan sebagai metode pemaksaan atau sebagai alat untuk mengendalikan kelompok yang dianggap sebagai ancaman bagi suatu pemerintahan. Sepanjang sejarah, siksaan telah juga digunakan sebagai cara untuk memaksakan pidah agama atau cuci otak politik.

6.3 Kekalutan Mental
     Merupakan suatu keadaan dimana jiwa seseorang mengalami kekacauan dan kebingungan dalam dirinya sehingga ia merasa tidak berdaya. Saat mendapat kekalutan mental berarti seseorang tersebut sedang mengalami kejatuhan mental dan tidak tahu apa yang mesti dilakukan oleh orang tersebut. Dengan mental yang jatuh tersebut tak jarang membuat orang mengalami kejatuhan mental menjadi tak waras lagi atau gila. Karena itu orang yang mengalami kejatuhan atau kekalutan mental seharusnya mendapat dukuangan moril dari orang-orang dekat disekitarnya seperti orang tua, keluarga, atau bahkan teman-teman dekat atau teman-teman sepergaulannya. Hal tersebut dibutuhkan agar orang tersebut mendapat semangat lagi dalam hidup.

6.4 Penderitaan dan Perjuangan
     Penderitaan memang selalu hadir dalam kehidupan kita, tidak berarti hidup adalah menderita/hidup adalah untuk penderitaan. Namun "Hidup adalah Perjuangan yang Tak Henti-henti." Jadi mau tidak mau kita selalu dituntut untuk terus berjuang dalam hal apapun. Dan percayalah bahwa tidak ada sesuatu yang sia-sia. Setelah perjuangan terlaksana dan pasrah kepada Tuhan. Maka dari itulah gunanya bersosialisasi. Dengan bersosialisasi kita dapat saling membantu dalam susah maupun senang dengan sesama manusia dalam menyelesaikan masalah dan menyelesaikan penderitaan. Namun jangan lupa disertai doa. Manusia hanya merencanakan selebihnya adalah kehendak Tuhan.
     Waspada akan penderitaan boleh dalam berbagai hal namun tetap kita tidak dapat mengehindar dari penderitaan, satu-satunya jalan keluar adalah dengan melewatinya. Hal ini nampak bila ditinjau jenjang karir sejarah orang-orang besar disekitar kita yang benar-benar berhasil oleh karena usahanya sendiri dan bantuan Tuhan.

6.5 Penderitaan Media Massa dan Seniman
      Media massa merupakan alat yang paling tepat untuk mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa penderitaan manusia secara cepat kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat dapat segera menilai untuk menentukan sikap antara sesama manusia terutama bagi yang merasa simpati. Tetapi tidak kalah pentingnya komunikasi yang dilakukan para seniman melalui karya seni, sehingga para pembaca, penonton dapat menghayati penderitaan sekaligus keindahan karya seni. Sebagai contoh bagaimana penderitaan anak bernama Arie Hanggara yang mati akibat siksaan orang tuanya sendiri yang di filmkan dengan judul "Arie Hanggara".

6.6 Penderitaan dan Sebab-sebabnya
      Apabila kita kelompokkan secara sederhana berdasarkan sebab-sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia dapat diperinci sebagai berikut :
  • Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia : Penderitaan yang menimpa manusia karena perbuatan buruk manusia dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Penderitaan yang terkadang disebut nasib buruk ini dapat diperbaiki bila manusia itu mau berusaha untuk memperbaikinya.
  • Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan / azab Tuhan : Penderitaan manusia dapat juga terjadi akibat penyakit atau siksaan / azab Tuhan. Namun kesabaran, tawakan dan optimisme merupakan usaha manusia untuk mengatasi penderitaan itu.
      Akibat yang terjadi dari penderitaan yaitu jika penderitaan yang dialami seseorang atau banyak orang tidak dapat di atasi menggunakan hati, maka kemungkinan besar akan berdampak pada emosi, dana hal buruk lainnya.

6.7 Pengaruh Penderitaan
    Apa saja pengaruh yang akan terjadi pada seseorang bila mengalami penderitaan?. Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya.
   Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negatif. Sikap negatif misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, ingin bunuh diri. Sikap ini diungkapkan dalam peribahasa "Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna." Kelanjutan dari sikap negatif ini dapat timbul sikap anti.
     Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan, dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan. Sikap positif biasanya kreatif, tidak mudah menyerah.
     Apabila sikap negatif dan positif ini dikomunikasikan oleh para seniman kepada para pembaca, penonton, maka para pembaca, para penonton akan memberikan penilaiannya. Penilaian itu dapat berupa kemauan untuk mengadakan perubahan nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat dengan tujuan perbaikan keadaan. Keadaan yang sudah tidak sesuai ditinggalkan dan diganti dengan keadaan yang lebih sesuai, keadaan yang berupa hambatan harus disingkirkan.

Sumber :  

5) Manusia dan Keindahan

5.1 Keindahan
      Keindahan atau keelokan merupakan sifat dan ciri dari orang, hewan, tempat, objek, atau gagasan yang memberikan pengalaman persepsi kesenangan, bermakna, atau kepuasan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benak, atau elok. Keindahan dipelajari sebagai bagian dari estetika, sosiologi, psikologi sosial, dan budaya. Sebuah "kecantikan yang ideal" adalah sebuah entitas yang dikagumi, atau memiliki fitur yang dikaitkan dengan keindahan dalam suatu budaya tertentu, untuk kesempurnaannya.
     Pengalaman "keindahan" sering melibatkan penafsiran beberapa entitas yang seimbang dan selaras dengan  alam, yang dapat menyebabkan perasaan daya tarik dan ketentraman emosional. Karena ini adalah pengalaman subyektif, sering dikatakan bahwa beauty is in the eye of the beholder atau "keindahan itu berada pada mata yang melihatnya."

5.2 Renungan
   Merenung adalah aktifitas mendalam (deep thinkings) yang sungguh berbeda dengan termenung. Merenung adalah secara diam-diam memikirkan sesuatu hal kejadian yang mendalam. Sedangkan termenung adalah gambaran tentang kondisi hanyutan sebuah pikiran, tentu saja ia kehilangan ofektivitasnya karena memang sedang out of control.
  Termenung bisa dikatakan meratapi hidup, orang termenung pasti melakukan dialog dengan diri sendiri. Berarti banyak menguraikan masalah dari termenung, orang berbicara dengan nurani dan akalnya menyamarkan persepsi antara hati dan otak.
   Renungan berasal dari kata renung artinya memikirkan sesuatu, jadi Renungan adalah pembicaraan diri kita sendiri atau pembicaraan dalam hati kita tentang suatu hal.

5.3 Kekerasan
      Kekerasan atau Violence berasal dari kata Violentus yang berarti kekuasaan atau berkuasa adalah dalam prinsip dasar hukum publik dan privat Romawi yang merupakan sebuah ekspresi baik yang dilakukan secara fisik ataupun secara verbal yang mencerminkan pada tindakan agresidan penyerangan pada kebebasan atau martabat seseorang yang dapat dilakukan oleh perorangan atau sekelompok orang, umumnya berkaitan dengan Kewenangannya yakni bila diterjemahkan secara bebas dapat diartikab bahwa semua kewenangan tanpa mengindahkan keabsahan penggunaan atau tindakan kesewenang-wenangan itu dapat pula dimasukan ke dalam rumusan kekerasan ini.
      Akar kekerasan : Kekayaan tanpa bekerja, Kesenangan tanpa hati nurani, Pengetahuan tanpa karakter, Perdagangan tanpa moralitas, Ilmu tanpa kemanusiaan, Ibadah tanpa pengorbanan, Politik tanpa prinsip.

Sumber :

Thursday, October 25, 2012

4) Manusia dan Cinta Kasih

4.1 Pengertian Cinta Kasih
      Menurut kamus umum Bahasa Indonesia, cinta adalah rasa suka kepada ataupun rasa kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh rasa belas kasihan. Dengan demikian arti cinta kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta.
     Walaupun cinta kasih mengandung arti hampir bersamaan, namun terdapat perbedaan antara keduanya. Cinta lebih mengandung pengertian mendalamnya rasa, sedangkan Kasih adalah cinta yang lebih mendalam dan diwujudkan secara nyata.
      Cinta memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, sebab cinta merupakan landasana dalam kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak, hubungan yang erat di masyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab. Demikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia denga Tuhannya, sehingga manusia menyembah Tuhan dengan ikhlas mengikuti perintahNya dan berpegang teguh pada syariatNya.

4.2 Cinta Menurut Ajaran Agama
      Ada yang berpendapat bahwa etika cinta dapat dipahami dengan mudah tanpa dikaitkan dengan agama. Tetapi dalam kenyataan hidup manusia masih mendambakan tegaknya cinta dalam kehidupan ini. Di satu pihak, cinta diagungkan lewat lagu dan organisasi perdamaian dunia, tetapi pihak lain dalam praktek kehidupan cinta sebagai dasar kehidupan jauh daari kenyataan. Atas dasar ini, agama memberikan ajaran cinta kepada manusia.
      Dalam kehidupan manusia, cinta menampakkan diri dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang seseorangg mencintai dirinya sendiri. Kadang-kadang mencintai orang lain. Atau juga istri dan anaknya, hartanya, atau Allah dan Rasulnya. Berbagai bentuk cinta ini bisa kita dapatkan dalam kitab suci Al-Quran

4.3 Kasih Sayang
      Pengertian kasih sayang menurut kamus umum bahasa indonesia adalah perasaan sayang, perasaan cinta, atau perasaan suka kepada seseorang.
   Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasih sayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Percintaan muda-mudi (pria-wanita) bila diakhiri dengan perkawinan maka didalam berumah tangga keluarga muda itu bukan lagi bercinta-cintaan, tetapi sudah bersifat kasih mengasihi atau saling menumpahkan kasih sayang.
   Dalam kasih sayang sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Bila sayang hilang, misalnya unsur tanggung jawab, maka retaklah keutuhan rumah tangga itu. Kasih sayang yang tidak disertai kejujuran, terancamlah kebahagiaan rumah tangga itu.
     Yang dapat merasakan kasih sayang bukan hanya suami atau istri atau anak-anak yang telah dewasa, melainkan bayi yang masih merah pun telah dapat merasakan kasih sayang dari ayah dan ibunya. Bayi yang masih merah telag mengenal suara atau sentuhan tangan ayah dan ibunya. Bagaimana sikap ibunya memegang atau menggendong telah dikenalnya. Hal ini karena sang bayi telah mempunyai kepribadian.
     Kasih sayang, dasar komunikasi dalam suatu keluarga. Komunikasi antara anak dan orang tua, pada prinsipnya anak terlahir dan terbentuk sebagai hasil curahan kasih sayang orang tuanya. Pengembangan watak anak dan selanjutnya tak boleh lepas dari kasih sayang dan perhatian orang tua. Suatu hubungan yang harmonis akan terjadi bila hal itu terjadi secara timbal balik antara orang tua dan anak.
      Suatu kasus yang sering terjadi, yang menyebabkan seseorang menjadi morfinis, keberandalan remaja, frustasi, dan sebagainya, dimana semuanya dilatarbelakangi kurangnya perhatian dan kasih sayang dalam kehidupan keluarganya.

4.4 Kemesraan
      Kemesraan berasal dari kata dasar mesra, yang artinya perasaan simpati yang akrab. Kemesraan ialah hubungan yang akrab baik antara pria dan wanita yang sedang dimabuk asmara maupun yang sudah berumah tangga.
      Kemesraan pada dasarnya merupakan perwujudan kasih sayang yang mendalam. FIlsuf Rusia, Salovjef dalam bukungan, makna kasih mengatakan "jika seorang pemuda jatuh cinta pada seorang gadis secara serius, dia terlempar ke luar dan cinta diri. Dia mulai hidup untuk orang lain."
      Yose Ortage Y Gasset dalam novelnya "On Love" mengatakan "di kedalaman sanubari seorang pecinta merasa dirinya bersatu tanpa syarat dengan objek cintanya. Persatuan bersifat kebersamaan yang mendasar dan melibatkan seluruh eksistensinya."

4.5 Pemujaan
      Pemujaan adalah salah satu manifestasi cinta manusia kepada Tuhannya yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi ritual. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dan kehidupan manusia. Hal ini ialah karena pemujaan kepada Tuhan adalah inti, nilai dan makna kehidupan yang sebenernya. Apa sebeb itu terjadi adalah karena Tuhan menciptakan alam semesta. Seperti dalam surat Al-Furqon ayat 59-60 yang menyatakan, "Dia yang menciptakan langit dan bumi beserta apa-apa yang ada didalamnya, diantara keduanya dalam enam rangkaian masa, kemudia Dia bertahta diatas singgasanaNya. Dia Maha Pengasih maka tanyakanlah kepadaNya tentang soal-soal apa yang perlu diketahui." Selanjutnya ayat 60, "Bila dikatakan kepada mereka, sujudlah kepada Tuhan yang Maha Pengasih . Tuhan adalah pencipta, tetapi Tuhan juga penghancur segalanya, bila manusia mengabaikan segala perintahnya. Karena itu ketakutan manusia selalu mendampingi hidupnya dan untuk menghilangkan ketakutan itu manusia memujaNya."
     Pemujaan-pemujaan itu sebenarnya karena manusia ingi berkomunikasi dengan Tuhannya. Hal ini berarti manusia mohon ampun atas segala dosanya, mohon perlindungan, mohon dilimpahkann kebijaksanaan, agar ditunjukan jalan yang benar, mohon ditambahkan segala kekurangan yang ada padanya, dan lain-lain.
      Bila setiap hari sekian kali manusia memuja kebesarannya dan selalu mohon apa yang kita inginkan dan Tuhan selalu mengabulkan permintaan umatNya, maka wajarlah cinta manusia kepada Tuhan adalah cinta mutlak. Cinta yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Alangkah besar dosa kita apabila kita tidak mencintaiNya, meskipun hanya sekejap.

4.6 Belas Kasih
     Belas kasih adalah kebajikan dimana kapasitas emosional empati dan simpati untuk penderitaan orang lain dianggap sebagai bagian dari cinta itu sendiri, dan landasan keterkaitan sosial yang lebih besar dan humanisme dasar.
      Dalam surat Al-Qolam ayat 4, "Maka manusia menaruh belas kasihan kepada orang lain, karena belas kasihan adalah perbuatan yang berbudi. Sedangkan orang yang berbudi sangat dipujikan oleh Allah SWT."
      Perbuatan atau sifat menaruh belas kasihan adalah orang yang berakhlak. Manusia mempunyai potensi untuk berbelas kasihan. Masalahnya sanggupkah ia menggugah potensi belas kasihannya itu. Bila orang itu tergugah hatinya maka berarti orang berbudi dan terpujilah oleh Allah SWT.
        Contoh belas kasihan terhadap sesama :

  • Menolong teman yang sedang membutuhkan pertolongan kita
  • Berempati terhadap sesama
  • Ikhlas dalam melakukan sesuatu
4.7 Cinta Kasih Erotis
      Cinta kasih erotis yaitu kehausan akan penyatuan yang sempurna, akan penyatuan dengan orang lain. Cinta kasih erotis bersifat eksklusif, bukan universal, pertama-tama cinta kasih erotis kerap kali di campur adukan dengan pengalaman yang dapat di eksplosif berupa jatuh cinta. Tetapi seperti yang telah dikatakan terlebih dahulu, pengalaman intimitas kemesraan yang tiba-tiba ini pada hakekatnya sementara.
     Cinta kasih erotis apabila benar-benar cinta kasih, mempunyai satu pendirian yaitu bahwa seseorang sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi dengan jiwanya yang sedalam-dalamnya dan menerima pribadi orang lain (wanita ataupun pria).

Sumber :
Seri Diktat Kuliah MKDU : Ilmu Budaya Dasar Karya Widyo Nugroho dan Achmad Muchji, Universitas Gunadarma

Sunday, October 21, 2012

3) Konsepsi Ilmu Budaya Dasar Dalam Kesusastraan

3.1 Pendekatan Kesusastraan
     Ilmu Budaya Dasar pada awalnya dinamakan Basic Humanities. Istilah Humanities sendiri berasal dari bahasa latin. Humanus yang berarti manusiawi, berbudaya, dan halus. Jadi, humanitities berkaitan erat dengan nilai-nilai sebagai homo humanities. Nilai-nilai itu bisa diperlajari dan pada umumnya mencakup filsafat, teknologi, seni, dan cabang-cabangnya termasuk sastra, dan sejarah.
      Dari sekian banyak ilmu-ilmu humanities, seni dan sastra memegang peranan yang penting. Seni beladiri menjadi lebih efektif daripada cabang ilmu lainnya karena sifatnya yang fleksibel dan tidak terikat. Sementara itu sastra memegang peranan yang jauh lebih penting, karena beberapa alasan yaitu:
1. Sastra menggunakan bahasa, dimana bahasa adalah sarana yang dapat menampung semua pernyataan dan kegiatan manusia. Selain itu, juga untuk berkomunikasi memahami diri sendiri, orang lain, dan lingkungan disekitar.
2. Sastra lebih mudah berkomunikasi. Karena sastra adalah penjabaran. Berbeda dengan tarian yang merupakan abstraksi yang harus dijabarkan lagi.
3. Sastra didukung oleh cerita, sehingga gagasan lebih mudah tersampaikan dan orang akan lebih tertarik. 

     Ilmu Budaya Dasar sendiri adalah ilmu yang mencakup semua cabang humanities tersebut. Sehingga diharapkan dengan memperlajari Ilmu Budaya Dasar, seseorang dapat mengembangkan kepribadiannya menjadi homo humanities.

3.2 Ilmu Budaya Dasar yang Dihubungkan dengan Prosa
     Secara umum, Prosa didefinisikan sebagai cerita fiksi atau cerita rekaan yang memiliki pelaku dan alur yang dihasilkan oleh daya imajinasi.
     Dalam Kesusastraan Indonesia, ada dua jenis Prosa, yaitu Prosa Lama dan Prosa Baru. Prosa lama meliputi dongeng-dongeng, hikayat, sejarah, epos, kisah pelipur lara. Sedangkan prosa baru meluputi Cerita Pendek, Roman, Biografi, Otobiografi, Kisah, dll.

3.3 Nilai-nilai dalam Prosa Fiksi
      Prosa Fiksi adalah prosa yang menggambarkan cerita, sehingga di dalamnya pasti ada pesan moral yang ingin disampaikan. Adapun nilai-nilai yang dapat diperoleh pembaca melalui prosa fiksi antara lain adalah:
1. Prosa Fiksi memberikan kesenangan
   Dari membaca prosa fiksi, pembaca akan dibawa kedalam cerita. Tempat-tempat yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh pembaca. Dengan begitu pembaca akan bebas berimajinasi.
2. Prosa Fiksi memberikan informasi
  Karya fiksi tidak terlepas dari unsur eksternal pengarangnya yang biasanya menempatkan keadaan sekitarnya, atau angan-angannya didalam ceritanya. Dengan begitu pembaca akan mendapatkan informasi yang begitu nyata dan indah dengan dijabarkan secara lengkap dalam cerita.
3. Prosa fiksa memberikan warisan kultural
    Prosa fiksi adalah sarana yang tepat untuk memindahkan dan mewariskan budaya ke generasi berikutnya. Melalui karya fiksi pembaca disuguhi budaya dimasa lampau, kebanggaan dan lain lain. Seperti yang digambarkan dalam epos mahabarata dan ramayana, roman siti nurbaya, layar terkembang, dll.
4. Prosa memberikan keseimbang wawasan
    Melalui prosa fiksi, seorang pembaca akan dihadapkan dengan permasalahan-permasalahan yang mungkin belum pernah dialami oleh dirinya, atau bahkan diluar nalar, beserta bagaimana pelaku dalam cerita menyelesaikannya. Dengan begitu, seorang pembaca akan memiliki banyak pengalaman dan perspektif dalam menghadapi masalah yang nyata di kehidupannya.

3.4 Ilmu Budaya Dasar yang Dihubungkan dengan Puisi
    Puisi adalah bagian dari sastra yang berisi ekspresi pengalaman penyair mengenai dirinya, alam, kehidupan, Tuhannya melalui bahasa yang artistik, estetik, utuh, dan dipadatkan. Keartistikan puisi disebabkan oleh kreatifitas penyair dalam membangun puisinya dengan menggunakan sbb:
1. Figura Bahasa, seperti gaya personifikasi, metafora, perbandingan, sarkastik, dan lain lain dengan tujuan memberikan gambaran dengan jelas kepada pembacanya.
2. Kata-kata yang ambigu atau memiliki banyak tafsir, sehingga setiap orang bisa menafsirkan dengan banyak hal
3. Kata-kata yang berjiwa, yaitu kata-kata yang sudah diberi tambahan tertentu dengan tujuan memberikan kehidupan pada pusisi
4. Kata-kata yang konotatif, yaitu kata-kata yang sudah diberi tambahan tertentu, dengan tujuan memberikan kehidupan pada puisi
5. Pengulangan, berfungsi untuk menegaskan dan menggugah hati

Sumber : 

2) Manusia dan Kebudayaan

2.1 Pengertian Manusia
    Manusia dapat diartikan berbeda-beda, dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo Sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"). Sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi, dimana dalam agama dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup. Dalam mitos, mereka juga sering kali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya. Organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.

2.2 Hakekat Manusia
 Ada beberapa pernyataan mengenai manusia yang dapat digolongkan sebagai filsafati seperti:
a. Aristoteles : menganggap manusia adalah animat rationale, karena menurutnya ada tahap perkembangan sebagai berikut:
Benda mati -> Tumbuhan -> Binatang -> Manusia
Tumbuhan = Benda mati + hidup + tumbuhan memilika jiwa hidup
Binatang = Benda mati + hidup + perasaan -> binatang memiliki jiwa perasaan
Manusia = Benda mati + hidup + akal -> manusia memiliki jiwa rasional

Disamping itu, aristoteles juga menyatakan bahwa manusia adalah zoon poolitikon atau makhluk sosial dan makhluk hylemorfik, terdiri atas materi dan bentuk-bentuk.

b. Ernest Cassirer : berpendapat bahwa manusia adalah animal simbolikum, yaitu binatang yang mengenal simbol. Misalnya adat istiadat, kepercayaan, bahasa, dan lain-lain. Inilah kelebihan manusia jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Itulah sebabnya manusia dapat mengembangkan dirinya jauh lebih hebat daripada binatang yang hanya mengenal tanda bukan simbol.

c. Islam : memandang manusia sebagai khalifahtullah, yakni khalifah Allah. Ketika kata khalifah digunakan untuk manusia, kata ini mempunyai arti yang netral. Maksudnya bisa untuk kebaikan dan bisa pula untuk keburukan

2.3 Kepribadian Bangsa Timur
   Bangsa timur sangat terkenal dengan keramahtamahannya terhadap orang lain, bahkan orang asing sekalipun. Bagaimana mereka saling memberikan salam, tersenyum atau berbasa-basi menawarkan makanan atau minuman. Bangsa timur juga sangat menjunjung nilai dan norma yang tumbuh di lingkungan masyarakat mereka.

    Kepribadian bangsa timur juga identik dengan tutur kata yang lemah lembut dan sopan dalam bergaul maupun berpakaian. Orang-orang timur juga sangat mengedepankan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi.

   Bangsa lain juga sangat suka dengan kepribadian bangsa timur yang tidak individualis, dan saling menghargai serta tolong-menolong satu sama lain tanpa pamrih. Selain itu bangsa timur sangat menjaga tali silaturahim atau kekeluargaan antar sesama. Bangsa timur juga terkenal mempunyai pribadi sebagai bangsa pekerja keras. Mereka akan berjuang untuk memenuhi kebutuhan baik individu maupun kelompok. Tingkat keagamaan ataupun religi mereka juga tinggi. Terlihat dari seringnya mereka melakukan ibadah. Kepercayaan bangsa timur terhadap nenek moyang mereka juga masih sangat kental. Bangsa timur juga terkenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai kebudayaan bangsa mereka. Kebudayaan itulah mereka jadikan panutan dalam perilaku.

2.4 Pengertian Kebudayaan
      Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sanskerta yaitu Buddhayah. Merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal). Dalam bahasa inggris, kebudayaan disebut Culture, yang berasal dari kata lain Colore, yaitu mengolah atau mengerjakan. Dapat diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa indonesia.

Definisi budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, baha, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaan, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

2.5 Unsur-unsur Kebudayaan
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut
1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu : 

  • Alat-alat teknologi
  • Sistem ekonomi
  • Keluarga
  • Kekuasaan politik
2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi: 

  • Sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya.
  • Organisasi ekomomi
  • Alat-alat atau lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
  • Organisasi kekuatan (politik)
2.6 Wujud Kebudayaan
Menurut J.J Hoenigman wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga, yaitu :  gagasan, aktivitas, dan artefak
  • Gagasan (Wujud Ideal) : Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak, tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka alokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
  • Aktifitas (Tindakan) : Aktifitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktifitas-aktifitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari dapat diamati dan didokumentasikan.
  • Artefak (Karya) : Artefak adalah wujud kebuyaan fisika yang berupa hasil berupa hasil dari aktifitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkab dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktifitas) dan karya (artefak) manusia.
2.7 Orientasi Nilai Budaya
     Menurut C. Kluckhohn dalam karyanya Variation in Value Orientation (1961) sistem nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia, secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu:
1. Hakekat hidup manusia (MH)
2. Hakekat karya manusia (MK)
3. Hakekat waktu manusia (WM)
4. Hakekat alam manusia (MA)
5. Hakekat hubungan manusia (MN)

2.8 Perubahan Kebudayaan
Terjadinya gerak/perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal:
1. Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri.
2. Sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup.

Perubahan ini, selain karena jumlah penduduk dan komposisinya, juga karena adanya difusi kebudayaan, penemuan-penemuan baru, khususnya teknologi dan inovasi.
Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalam nialai-nilai, sikap-sikap, dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
Perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi dalam sistem ide yang dimiliki bersama oleh para warga masyarakat atau sejumlah warga masyarakat yang bersangkutan, antara lain aturan-aturan, norma-norma yang digunakan sebagai pegangan dalam kehidupan, juga teknologi, selera, rasa keindahan (kesenian), dan bahasa.

2.9 Kaitan Manusia dengan Kebudayaan
Secara sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah manusia sebagai perilaku kebudaaan, dan kebudayaan merupakan obyek yang dilaksanakan manusia.
Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis, maksudnya saling terkait satu sama lain, proses dialektis tercipta melalui tiga tahap, yaitu :
1. Eksternalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya.
2. Obyetivasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif.
3. Internalisasi, yaitu proses dimana msyarakat disegrap kembali oleh manusia.

Manusia dan kebudayaan, atau manusia dan masyarakat, oleh karena itu mempunyai hubungan keterkaitan yang erat satu sama lain. Pada kondisi sekarang ini kita tidak dapat lagi membedakan mana yang lebih awal muncul manusia atau kebudayaan 

Sumber :

Tuesday, October 16, 2012

1) ISD sebagai salah satu MKDU

1.1 Pengertian, Tujuan, ISD dan IPS
Ilmu Sosial Dasar adalah pengetahuan yang menelaah masalah-masalah sosial, khususnya yang diwujudkan oleh masyarakat Indonesia dengan menggunakan pengertian-pengertian (fakta, konsep, teori) yang berasal dari berbagai bidang pengertahuan keahlian dalam lapangan ilmu-ilmu sosial seperti: sejarah, ekonomi, geografi sosial, sosiologi, antropologi, psikologi sosial.
Ilmu Pengetahuan Sosial adalah sekelompok disiplin akademis yang mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan lingkungan sosialnya. Ilmu ini berbeda dengan seni dan humaniora karena menekankan penggunaan metode ilmiah dalam mempelajari manusia, termasuk metode kuantitatif dan kualitatif. Istilah ini juga termasuk menggambarkan penelitian dengan cakupan yang luas dalam berbagai lapangan meliputi perilaku dan interaksi manusia pada masa dulu dan masa kini. 
Tujuan dari ilmu sosial dasar adalah sebagai berikut :
1. Memahami dan menyadari adanya kenyataan-kenyataan sosial dan masalah-masalah sosial yang ada                     didalam masyarakat
2. Peka terhadap masalah-masalah sosial dan tanggap untuk ikut serta dalam usaha-usaha menanggulanginya
3. Menyadari setiap masalah sosial yang timbul dalam masyarakat selalu bersifat kompleks dan hanya mendekatinya mempelajarinya secara kritis dan interdisipliner
4. Memahami jalan pikiran para ahli dalam bidang ilmu pengetahuan lain dan dapat berkomunikasi dengan mereka dalam rangka penanggulangan masalah sosial yang timbul dalam masyarakat

1.2 ISD dan IPS 
     Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Pengetahuan Sosial keduanya mempunyai persamaan dan perbedaan.
Persamaan ISD dan IPS yaitu : 
a. Keduanya merupakan bahan studi untuk kepentingan program pendidikan
b. Keduanya bukan disiplin ilmu yang berdiri sendiri
c. Keduanya mempunyai materi yang terdiri dari kenyataan sosial dan masalah sosial

Perbedaan ISD dan IPS yaitu :
a. Ilmu Sosial Dasar diberikan di Perguruan Tinggi, Ilmu Pengetahuan Sosial diberikan di Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan
b. Ilmu Sosial Dasar merupakan mata kuliah tunggal sedangkan Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan kelompok dari sejumlah mata pelajaran di sekolah lanjutan
c. Ilmu Sosial Dasar diarahkan kepada pembentukan sikap dan kepribadian, sedangkan Ilmu Pengetahuan Sosial diarahkan kepada pembentukan dan keterampilan intelektual

1.3 Ruang Lingkup ISD 
      Bahan pelajaran Ilmu Sosial Dasar dapat dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu :
1. Kenyataan-kenyataan sosial yang ada dalam masyarakat yang secara bersama-sama merupakan masalah sosial tertentu
2. Konsep-konsep sosial atau pengertian-pengertian tentang kenyataan-kenyataan sosial dibatasi pada konsep dasar atau elementer saja, yang sangat diperlukan untuk mempelajari masalah-masalah sosial yang dibahas dalam Ilmu Pengetahuan Sosial
3. Masalah-masalah yang timbul dalam masyarakat, biasanya terlibat dalam berbagai kenyataan-kenyataan sosial antara satu dengan yang lain

Berdasarkan bahan kajian seperti yang disebutkan diatas, dapat dijabarkan lebih lanjut kedalam pokok bahasan untuk dapat dioperasionalkan

Ilmu Sosial Dasar terdiri dari 8 pokok bahasan. Dari kedelapan pokok bahasan tersebut maka ruang lingkup perkuliahan Ilmu Sosial Dasar diharapkan mempelajari dan memahami adanya sebagai berikut : 
1. Berbagai masalah kependudukan dalam hubungannya dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaan
2. Masalah individu, keluarga, dan masyarakat
3. Masalah pemuda dan sosialisasi
4. Masalah hubungan Warga Negara dan Negara'
5. Masalah pelapisan sosial dan kesamaan derajat
6. Masalah masyarakat perkotaan dan pedesaan
7. Masalah pertentangan-pertentangan sosial dan integrasi
8. Pemantauan ilmu pengetahuan dan teknolohi bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat

Sumber :
Referensi: Harwatiyoko dan Neltje F. Kaltuuk. MKDU SOSIAL DASAR, Jakarta 1996